Artikel 6

GUS MUS


Acep Zamzam Noor


TAHUN 1987, di ruang makan Wisma Seni Taman Ismail Marzuki (TIM), Mas Zawawi Imron menyapa saya dengan penuh keakraban. Pria yang selalu gembira ini mengajak saya bergabung di mejanya, lalu dengan penuh semangat bercerita tentang hal-hal lucu, mulai dari anekdot politik sampai cerita yang berbau porno. Jidatnya yang lebar, matanya yang nyalang, kepalanya yang bergerak-gerak serta logat Madura-nya yang kental menambah kelucuan tersendiri. “Dalam menjalani kehidupan di dunia, kita tidak akan lepas dari tiga hal. Pertama pandangan hidup, kedua pegangan hidup, dan ketiga perjuangan hidup…” ujarnya. Ada sekitar enam penyair yang berkumpul di meja panjang itu, semuanya melongo. Mas Zawawi kemudian menjelaskan bahwa ketika masih muda dengan hanya memandang sudah bisa hidup, ketika menginjak paruh baya baru akan hidup kalau dipegang, dan setelah tua harus berjuang dulu agar bisa hidup. Lalu kami semua tergelak setelah paham ke mana arah cerita tersebut.


Puluhan penyair dari berbagai penjuru tanah air berkumpul di TIM. Waktu itu kami diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk mengikuti Forum Penyair Muda 1987. Semua penyair menginap berdesakan di Wisma Seni yang mirip asrama haji. Di antara para penyair yang hadir banyak juga dari kalangan pesantren seperti Ahmad Syubanuddin Alwy, Mathori A. Elwa, Nasruddin Anshory, Jamal D. Rahman, Ahmad Nurullah, Ahmadun Yosi Herfanda dan Micky Hidayat. Mungkin karena sama-sama pernah menjadi santri (dan sama-sama warga NU) kami cepat sekali akrab, meskipun baru saja kenal. “Gus Acep, kalau memakai peci wajah sampeyan mirip sekali dengan Gus Mus ketika muda,” tiba-tiba Mas Zawawi berkata kepada saya. Tentu saja saya merasa kaget dan bertanya-tanya. Gus Mus siapa?


“Gus Mus itu Kiai Mustofa Bisri, beliau juga suka menulis puisi,” Mas Zawawi menjelaskan. Oh, kalau yang dimaksud K.H. A. Mustofa Bisri dari Rembang tentu saya sudah tahu, cerita tentang tokoh NU yang satu ini sering saya dengar dari paman saya, K.H. Dudung Abdul Halim, yang pernah sama-sama kuliah di Mesir. Sejak saat itulah saya menyebut K.H. A. Mustofa Bisri dengan Gus Mus, mengikuti Mas Zawawi. Sejak itu pula saya paham bahwa gus merupakan sebutan atau gelar untuk anak kiai, sebutan ini akan tetap melekat meskipun anak kiai tersebut sudah bermetamorfosis menjadi kiai. Atau gus tersebut sudah mempunyai anak atau cucu yang juga dipanggil gus. Tadinya saya menduga bahwa gus adalah kata lain dari kiai, makanya kaget sekali ketika Mas Zawawi memanggil saya dengan embel-embel gus, padahal saya bukan kiai.


Tiba-tiba saya jadi teringat pada Gus Ballon, Gus Suwage, Gus Jatnika dan Gus Bonsai, teman-teman kuliah saya di FSRD ITB yang kebetulan mempunyai nama depan gus meskipun tak ada hubungannya dengan pesantren. Saya juga teringat pada Gus Bachtiar, pelukis potret yang membuka usaha sablon di Garut. Atau Gus Jur (singkatan dari Agus Jurig), aktor teater berbakat dari Bandung. Sebutan khusus untuk anak kiai memang kurang dikenal di pesantren-pesantren Jawa Barat. Anak-anak kiai di Tatar Sunda pada umumnya dipanggil namanya saja. Di beberapa pesantren salaf sekitar Garut dan Cianjur ada juga anak kiai yang dipanggil ceng, namun panggilan ini pun dengan catatan: kalau perilaku anak kiai tersebut menunjukkan kualitas atau potensi kekiaian. Jadi kalau anak kiai perilakunya kurang terpuji, masyarakat tidak akan memanggilnya ceng.


“Kalau ada anak kiai yang kerjanya menjadi tim sukses atau broker politik, apa masih tetap dipanggil gus juga?” iseng-iseng saya bertanya pada seorang novelis Surabaya ketika pilgub Jawa Timur sedang kisruh-kisruhnya, ketika perpecahan PKB sedang seru-serunya, dan ketika sejumlah gus yang berbeda kepentingan bertempur satu sama lain. Novelis tersebut hanya mesem-mesem.


***


Tahun 1990, di Shoping Centre, tempat penjualan buku-buku diskon di Yogyakarta, saya menemukan sebuah buku yang berjudul Ohoi. Buku mungil dan tipis terbitan Pustaka Firdaus itu ternyata kumpulan puisi karya Gus Mus. Di Stasiun Tugu yang riuh namun teduh, di tengah orang-orang yang lalu lalang, sambil menunggu kereta api saya membaca dengan khusyuk puisi-puisi tersebut. Aneh, selalu ada yang berdesir di sekitar kuduk saya kalau membaca karya sastra yang ditulis orang pesantren. Begitu juga ketika saya membaca puisi-puisi Gus Mus. Pada dekade 1980-an belum banyak sastrawan dari kalangan pesantren yang karya-karyanya dibukukan, kecuali Emha Ainun Nadjib yang memang sedang ngetop-ngetopnya waktu itu. Nama lain yang bisa disebut paling Djamil Suherman, Ahmad Tohari, M. Fudoli Zaini dan D. Zawawi Imron. Sementara para penyair santri yang namanya saya singgung di atas masih bergulat mencari jadi diri di ruang-ruang sempit rubrik sastra, baik di koran maupun majalah .


Membaca puisi-puisi Gus Mus saya merasakan kenikmatan yang lain. Mungkin seperti nikmatnya minum kopi yang diseduh dengan air mendidih, aromanya masih terasa meskipun kopi tersebut sudah habis direguk. Membaca puisi-puisi Gus Mus juga membuat saya tercerahkan. Mungkin seperti makan rujak, rasa pedas yang meresap di lidah reaksinya langsung nembak ke kepala. Pikiran yang tadinya penat mendadak segar kembali. Saya pun tersenyum. “Wah, kenapa saya tidak menulis puisi yang asyik seperti ini,” seru saya dalam hati. Ungkapan-ungkapan Gus Mus yang langsung, telanjang, jernih dan tepat sasaran memang sangat menggoda saya. Sepertinya mudah, namun tidak sembarang penyair bisa melakukannya. Sepertinya ringan, namun memberi kearifan pada kata-kata biasa bukanlah perkara sederhana. Pas sekali kalau Gus Mus menyebut karya-karyanya sendiri sebagai puisi balsem.


Puisi-puisi yang ditulis Gus Mus bukanlah jenis puisi yang bergulat dengan perambahan estetika yang sering berujung pada kegelapan makna, bukan puisi yang intens menggali kemurnian bunyi dan magi kata seperti halnya mantera, bukan pula puisi yang luluh dalam suasana sehingga menghadirkan impresi-impresi ngungun dan samar. Namun puisi yang sadar akan fungsinya sebagai penyampai pesan, puisi yang memanfaatkan kekuatan retorika meski tidak jatuh sebagai pidato. Selalu tersedia sebuah ruang di mana pembaca bisa termenung, terhenyak, terhanyut atau sekedar tersenyum. Bahasa yang digunakannya sejenis bahasa grafis yang plastis dan efektif, bahasa dengan karakter lisan yang kuat. Dalam perpuisian Indonesia mungkin bisa dibandingkan dengan puisi-puisi Rendra atau Emha, meski pada Gus Mus lebih menonjol unsur humornya. Tentu saja humor khas pesantren.


Saya membutuhkan waktu lima tahun untuk bertemu dengan Gus Mus sejak pertama kali mengapresiasi puisi-puisinya. Tahun 1995 saya diundang untuk mengikuti International Poetry Reading pada Festival Istiqlal II di Jakarta. Saya senang sekali karena Gus Mus, penyair NU yang bikin penasaran itu, terdaptar sebagai peserta dari Indonesia. Meski kami menginap di hotel yang sama, ternyata tidak mudah menemuinya. “Pak Kiai jangan diganggu dulu karena sedang menerjemahkan puisi-puisi dari penyair Mesir,” kata Hamid Jabbar. Sampai beberapa hari festival berlangsung Gus Mus belum kelihatan. Baru pada giliran beliau baca puisi di Graha Bakti Budaya TIM saya punya kesempatan menemuinya. Saya sowan, saya memperkenalkan diri sebagai warga NU, lalu mencium tangannya. Inilah ritual warga NU kalau berhadapan dengan kiai yang dihormatinya.


“Saya bukan penyair serius. Saya hanya mencoba-coba saja menulis puisi. Belajar pada karya-karya penyair lain, kemudian mereka-reka sendiri dan jadilah tulisan yang seperti puisi,” begitu kurang lebih ucapan Gus Mus yang masih terekam dalam ingatan saya. Sebuah pengakuan yang menunjukkan kerendahan hati tentunya. Pengakuan semacam ini beliau ulangi lagi pada tahun 2002. “Ketika menulis saya tidak berpikir apakah tulisan saya akan diterbitkan atau tidak. Ketika akan diterbitkan pun, saya tidak berpikir apakah ada yang akan membaca atau tidak. Bahkan saya tidak berpikir apakah tulisan saya pantas atau tidak disebut puisi. Biar semua itu orang lain yang memikirkannya. Tugas saya hanya menuliskan apa yang ingin saya tulis…” tulis Gus Mus dalam pengantar kumpulan puisi Negeri Daging.


Saya termasuk warga NU yang tergoda oleh Gus Mus. Bukan hanya tergoda oleh puisi-puisinya yang segar, namun juga oleh sosoknya sebagai penyair, sebagai seniman, sebagai kiai. Tak banyak tokoh NU yang masih memikirkan NU dengan tulus, yang masih punya kepedulian pada warganya di desa-desa. Tak banyak tokoh NU yang masih berkirim surat untuk mengingatkan sejawatnya yang mulai lupa diri. Tak banyak tokoh NU yang secara sadar mengambil jarak dengan kekuasaan, sekalipun kekuasaan itu tengah berada dalam genggaman sahabatnya. Lebih dari semua itu, tak banyak tokoh NU yang mampu berekspresi dengan beragam media. Gus Mus berekspresi lewat lisan, tulisan dan lukisan. Gus Mus seorang seniman. Konfigurasi iman, akal dan rasa menyatu utuh dalam dirinya.


Saya menduga, jangan-jangan sikap dan semua perbuatan baik yang saya paparkan di atas disebabkan karena Gus Mus seorang penyair, karena Gus Mus menulis puisi. Seandainya Gus Mus hanya sekedar kiai misalnya, mungkin saja sekarang beliau tengah bertarung dengan Muhaimin Iskandar memperebutkan jatah capres dari PKB. Atau sedang menuntut Mahkamah Konstitusi karena tidak menerima kekalahan jagoannya dalam pilgub Jawa Timur. Atau sedang sibuk istighosah keliling bersama Prabowo, Wiranto atau Sutiyoso. Atau malah sedang mengobral suara warga NU ke partai-partai lain. Dan seandainya dugaan saya benar, maka puisi harus segera dipertimbangkan untuk diajarkan di pesantren-pesantren. Dengan mempelajari dan mengapresiasi puisi, siapa tahu para politisi NU yang kebanyakan alumni pesantren itu akan meningkat kualitas mental maupun spiritualnya, paling tidak mempunyai rasa malu dan tidak ribut melulu seperti yang terjadi selama ini.


***


Setelah bergulirnya era Reformasi saya menjadi lebih sering bertemu dengan Gus Mus, bahkan kesempatan untuk kongkow-kongkow dengannya terasa lebih leluasa. Banyak acara di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta atau kota lain yang kebetulan melibatkan saya dan Gus Mus di dalamnya. Bukan hanya acara yang berhubungan dengan sastra, juga yang berkaitan dengan seni rupa. Sekali waktu pada pertengahan tahun 2003 di Surabaya, lukisan Gus Mus yang berjudul “Berzikir Bersama Inul” yang sedang dipamerkan dituduh telah melecehkan agama. Panitia diancam akan diobrak-abrik kalau tidak segera menutup pameran tersebut. Panita sempat panik, namun Gus Mus tenang-tenang saja, asyik merokok sambil bercerita tentang kebebasan berekspresi. Ketika tekanan semakin keras pada panitia, beliau mengundang para pengancam untuk berdialog. Namun mereka yang mengatasnamakan ormas Islam itu tidak berani datang.


Selama berlangsungnya acara kami sering menginap di hotel yang sama. Nampaknya Gus Mus tidak pernah datang sendirian, selalu didampingi istri, anak-anak atau kerabatnya. Dan jika ada undangan makan di luar hotel kadang saya diajak serta. Danarto, sastrawan yang terkenal hobi makan enak beberapa kali mentraktir kami sepuasnya di restoran Jepang. Almarhum Amang Rahman yang lukisannya baru terjual juga pernah mentraktir kami. Meskipun begitu saya tetap merasa berjarak, tetap merasa sungkan jika berhadapan langsung dengan Gus Mus. Saya lebih banyak mendengar ketimbang berbicara.


Kalau sedang berkumpul satu meja dengan Gus Mus, diam-diam saya suka memperhatikan wajahnya. Rambutnya sudah beruban, begitu juga sebagian alisnya. Hidungnya lumayan mancung, rahangnya kokoh dan dagunya sedikit panjang. Saya teringat ucapan Mas Zawawi yang pernah mengatakan wajah saya mirip dengan wajah beliau ketika muda, namun miripnya sebelah mana saya tidak tahu. Saya perhatikan baik-baik gayanya merokok, wow sangat penyair sekali. Beliau mengisap pipa gadingnya dengan penuh perasaan, kadang dengan mata yang dipejamkan pelan-pelan. Saya perhatikan kacamatanya, model anak muda tahun 1980-an. Batu cincinnya biru, kemungkinan besar dari jenis safir. Saya ingin sekali meminjam cincin tersebut sekedar untuk mengamati keaslian batunya, tapi tidak berani.


Jangan-jangan yang dimaksud mirip oleh Mas Zawawi hanyalah karena kami sama-sama memakai kacamata, menyukai batu cincin dan perokok berat. Saya tidak tahu apakah Gus Mus suka minum kopi, saya belum pernah melihatnya. Kalau ternyata beliau penikmat kopi yang serius, berarti kesamaan di antara kami bertambah satu lagi. Saya juga tidak tahu apakah Gus Mus keranjingan lagu-lagu dangdut dan suka berjoget sendirian seperti saya, rasanya kurang enak menanyakannya. Yang jelas Gus Mus suka memakai celana jeans kalau sedang santai. Sekali-kali suka bersiul, namun tidak jelas apakah lagu Umi Khulsum, Evie Tamala atau Rhoma Irama yang disiulkannya itu.


Kadang saya berkhayal seandainya tokoh-tokoh NU semuanya santai seperti Gus Mus mungkin Indonesia akan aman. Mungkin jam’iyah NU akan tenang dan damai. Mungkin PKB yang menjadi kebanggaan kaum nahdliyin tidak akan terpecah menjadi serpih-serpih kecil. Mungkin para politisi NU tidak akan kampungan dan kekanak-kanakan. Saya tiba-tiba teringat almarhum ayah saya, yang bersama-sama dengan Gus Mus (juga Gus Dur dan K.H. Muchit Muzadi) mendeklarasikan kelahiran PKB sebagai wadah politik warga NU. Bukan sebagai ring tinju warga NU. Bukan pula sebagai toko kelontong warga NU.


Sekarang izinkan saya mengutip salah satu puisi pendek Gus Mus, yang menurut saya metafornya perihal dunia politik dan kekuasaan begitu kuat, keras dan menohok, namun tidak melukai. Dalam puisi ini nampak sekali kepiawaian Gus Mus membungkus kritik yang sebenarnya tajam menjadi sebuah renungan yang menggelitik:


Binatang apa kira-kira

Yang hendak membangun istana

Untuk kita semua?


Rasanya saya tidak pernah mengkhayalkan Gus Mus menjadi presiden, mungkin karena trauma dengan kegagalan Gus Dur dulu. Mengkhayalkannya menjadi ketua umum PBNU saja tidak berani, takut penyair kebanggaan kita ini tergoda menjadi cawapres seperti K.H. Hasyim Muzadi. Kalau hal itu terjadi, maka pengurus-pengurus NU di daerah yang umumnya kiai otomatis akan dikerahkan menjadi tim sukses. Dan ini sangat berbahaya bagi mentalitas warga NU. Menjadi tim sukses itu seperti mengkonsumsi narkoba, suka ketagihan dan sulit untuk berhenti. Setelah jagoannya kalah dalam pilpres misalnya, pasti ingin mengulangnya lagi dengan menjadi tim sukses pada pilgub, lalu menjadi tim sukses pada pilbup atau pilwalkot dan seterusnya. Lama-lama tim sukses menjadi semacam hobi yang mengandung zat adiktif, zat yang bisa membikin pelakunya sakaw.


“Seburuk-buruknya Perjuangan Adalah Menjadi Tim Sukses” demikian spanduk yang pernah saya pasang di pusat kota Tasikmalaya, beberapa tahun lalu.


Gus Mus tentu sangat paham seluk beluk dunia politik, makanya beliau tidak mau menjadi bagian dari kekisruhan politik praktis yang tidak memberikan manfaat apa-apa bagi siapapun. Apalagi bagi warga NU. Menurutnya, berpolitik adalah memperjuangkan nilai-nilai yang medannya bukan hanya di Istana, Gedung DPR/MPR, Pendopo atau semacamnya, namun juga di desa-desa, di mesjid-mesjid, di madrasah-madrasah, di forum-forum diskusi dan seminar, di panggung-panggung pertunjukan, di ruang-ruang pemeran bahkan di kedai-kedai kopi dan kaki lima. Gus Mus seorang penyair. Seorang seniman. Kedudukan atau jabatan apapun bukanlah sesuatu yang harus dikejar, apalagi jika mengejarnya dilakukan dengan cara-cara yang tidak puitis.


Dengan menempatkan diri sebagai penyair, seniman dan kiai sekaligus, saya kira beliau telah memilih posisi yang tepat bagi warga NU di semua lapisan. Dengan posisi tersebut beliau bisa menjalin komunikasi dengan warga NU di bawah, juga menjaga kehormatan NU sebagai jam’iyah terbesar di negeri ini. Dengan menjadi penyair beliau leluasa bicara perihal relung-relung terdalam batin manusia, juga mampu mendiagnosa kanker-kanker ganas yang menggerogoti tubuh bangsa. Sebagai penyair beliau juga bebas menyapa, mengingatkan, menegur atau mengkritik siapapun. Sebagai penyair beliau telah menjadi suara lain. Dengan demikian beliau telah berpolitik tanpa harus menjadi politisi praktis.


Saya tidak habis pikir, kenapa posisi yang indah, mulia dan bermanfaat bagi orang banyak seperti ini tidak pernah diperebutkan orang-orang NU? Kenapa posisi seperti yang dipilih Gus Mus bukanlah posisi yang seksi di mata anak-anak muda NU? Kenapa cita-cita semua kader NU sepertinya telah menjadi seragam, yakni menjadi anggota dewan? Kenapa pendidikan politik di kalangan NU selalu dimulai dengan menjadi demonstran, menjadi provokator, menjadi underbow, menjadi broker, menjadi tim sukses dan kemudian menjadi caleg? Kenapa slogan “maju tak gentar membela yang bayar” kini menjadi semacam ideologi yang diimani oleh hampir semua aktivis NU termasuk para kiainya?


Ah, jangan-jangan mereka sudah tahu bahwa menjadi penyair, selain tugasnya sangat berat juga tidak akan mendapat gaji dan tunjangan apa-apa dari negara. Atau jangan-jangan mereka juga sudah paham bahwa posisi seorang penyair tidak akan memberinya peluang atau kesempatan yang leluasa untuk melakukan korupsi seperti halnya anggota dewan atau ketua partai. Mungkin saja.


(2009)

Prev Next Next