Artikel 5

PUISI YANG MENGINGATKAN


Acep Zamzam Noor


APAKAH selama ini sastra diajarkan di pesantren? Secara khusus mungkin tidak, namun sastra bukanlah sesuatu yang asing bagi kalangan pesantren. Bahkan sastra seperti menemukan habitatnya di sejumlah pesantren. Hal ini bukan hanya ditunjukkan oleh kenyataan bahwa banyak sastrawan kita yang mempunyai latar belakang pesantren, tapi juga dibuktikan bahwa karya sastra, baik puisi maupun prosa, dari hari ke hari semakin disukai para santri. Dalam bentuknya yang berlainan satu sama lain, kegiatan sastra terus berlangsung di berbagai pesantren. Penulis-penulis baru pun bermunculan dari kalangan santri. Dan salah satunya adalah Ahmad Baequni.


Sebagai seorang santri, Ahmad Baequni sudah melanglang ke berbagai pesantren di Surakarta, Demak, Banyumas dan Yogyakarta untuk mengaji. Namun dalam perantauannya ia banyak bersentuhan dengan dunia kesenian. Bukan hanya menulis puisi, ia juga melukis, main musik dan sempat mendirikan kelompok teater. Maka ketika pulang kampung, selain membawa ilmu-ilmu kepesantrenan ia pun mengantongi bekal dari pengalamannya berkesenian. Pengalaman berkesenian inilah yang kemudian ia kembangkan di Babakan Ciwaringin, Cirebon.


Seperti juga di pesantren-pesantren yang lain, di Babakan Ciwaringin pun kesenian tidak diajarkan secara khusus, bahkan cenderung dinafikan. Namun karena Baequni bagian dari keluarga besar pesantren tersebut, nampaknya ia mempunyai keleluasaan untuk mengembangkan kesenian. Pelahan-lahan ia memperkenalkan kesenian pada lingkungannya. Ia memperkenalkan puisi, lukisan, musik dan teater sampai kemudian mendirikan sanggar sastra yang anggotanya para santri. Mereka selain belajar menulis dan mengapresiasi, juga belajar bagaimana mementaskan puisi. Sejumlah pementasan kemudian digelar, hingga kesenian pun bukan sesuatu yang asing lagi bagi lingkungan pesantren. Bukan hanya di pesantrennya saja, Baequni juga menjalin komunikasi dengan santri-santri maupun ustadz-uztadz dari pesantren lain di sekitar Cirebon dan membentuk sebuah komunitas kesenian.


Dengan dukungan berbagai pihak komunitasnya terus berproses hingga tercetus gagasan untuk membikin kegiatan yang sifatnya “sensasional”, meskipun tujuan utamanya bukanlah mencari sensasi. Gagasan tersebut adalah memecahkan rekor pembacaan puisi tunggal terlama di Indonesia. Tentu saja untuk memecahkan rekor nasional ini bukan hanya pementasannya yang harus serius digarap, tapi juga kesiapan mental dan ketahanan fisik. Ia harus menyiapkan stamina seperti layaknya pelari maraton. Konon yang dipersiapkan bukan hanya fisik, ia juga mohon doa dan restu kepada sejumlah kiai untuk lebih memantapkan tekadnya. Dibantu teman-temannya ia merancang konsep agar pembacaan puisinya menjadi tontonan yang menarik. Ratusan puisi karyanya sendiri dan juga karya penyair lain dikumpulkan. Setiap sore ia berteriak-teriak melatih vokal. Setiap pagi berolahraga, senam atau joging keliling pesantren. Setelah semuanya siap, Museum Rekor Indonesia (MURI) pun dihubungi.


“Semua ini saya lakukan semata-mata karena ingin kesenian mendapat tempat di pesantren dan kesenian pesantren bisa terangkat ke permukaan, alhamdulillah banyak pihak yang kemudian mendukung gagasan ini. Saya mohon doa agar rencana saya memecahkan rekor ini berhasil,” begitu katanya penuh semangat, waktu ia berkunjung ke rumah saya dengan membawa sebundel puisi.


Kenekadan Ahmad Baequni adalah kenekadan khas santri. Maka pada tanggal 23 sampai 25 Agustus 2005 lalu, dengan mengambil tempat di Grage Mall Cirebon dan disaksikan ratusan santri, rekor nasional pembacaan puisi tunggal berhasil ia pecahkan dengan catatan waktu 48 jam non-stop, meski setelah itu ia tumbang. Sebuah babak baru dalam upaya menggalakkan apresiasi puisi bagi kalangan pesantren telah dilaksanakan dengan baik, tentu saja babak ini harus segera disambung dengan kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya literer. Bagaimana pun perjuangan literer seorang penyair adalah penguasaan bahasa, penggalian makna, pencapaian estetika dan seterusnya, yang mungkin sangat lain persoalannya dengan perjuangan memecahkan rekor yang cenderung mengandalkan fisik semata.


Untuk itulah ratusan puisi Ahmad Baequni yang ditulis dengan penuh semangat dalam dua tahun terakhir ini kemudian dikumpulkan dan diseleksi untuk diterbitkan sebagai buku. Hal ini pun karena dorongan sejumlah pihak, sebagai dampak dari keberhasilannya memecahkan rekor tadi.


***


Udara sangat panas, pohon-pohon pinggir jalan meranggas dan debu mengepul dari tanah yang mengering. Itulah Babakan Ciwaringin, sebuah kampung yang di dalamnya terdapat sejumlah pesantren dengan puluhan kiai, ratusan ustadz serta ribuan santri. Pesantren-pesantren yang namanya berbeda-beda itu berdempetan satu sama lain, begitu pula santri dari pesantren yang satu berbaur dengan santri dari pesantren yang lain. Bangunan-bangunan tua dan sederhana pun berjejer tanpa pembatas. Di masa lalu konon di situ hanya ada satu pesantren, namun setelah sekian generasi yang tentu saja diikuti dengan munculnya banyak kiai, berkembanglah seperti sekarang ini: masing-masing kiai mempunyai pesantrennya sendiri, wilayah kekuasaannya sendiri. Meskipun begitu, semua pesantren di kawasan ini dikenal sebagai Babakan Ciwaringin, yang atmosfirnya masih kental dengan kebersahajaan dan aromanya masih berbau pesantren tradisional. Ahmad Baequni, dengan sosoknya yang tinggi kurus, kulit sawo matang serta sorot mata tajam adalah bagian dari atmosfir dan aroma yang khas itu.


Membaca puisi-puisi Ahmad Baequni yang terkumpul dalam Aku Dan Singa Tua ini rasanya seperti menghirup udara yang panas, pohon-pohon yang meranggas serta debu yang mengepul. Ahmad Baequni menggunakan kalimat-kalimat langsung, telanjang dan tanpa perhiasan. Tak banyak upaya mengindah-indahkan kalimat, memoles kata-kata atau mereka-reka imaji. Ungkapannya lugas, apa adanya dan langsung pada sasaran:


Matinya ulama gelaplah agama

Matinya umaro antrilah pengganti

Matinya pelacur pusinglah germo

Matinya penjahat legalah masyarakat

Matinya koruptor sesaklah oknum aparat

Matinya penggugat tertawalah tergugat

Matinya maling nyenyaklah tidur

Matinya kekasih malaslah dunia

Matinya seniman redalah keindahan


Salah satu tradisi yang selama ini berlangsung di pesantren adalah tradisi lisan. Dibanding dengan tulisan, tradisi lisan lebih lekat dengan kehidupan pesantren. Tak heran jika orang-orang pesantren banyak yang lancar berbicara, terampil beretorika, bahkan tak sedikit dari kalangan mereka yang menjadi orator ulung yang mampu membakar massa dengan tablig-tablignya. Ahmad Baequni nampaknya menyadari bahwa kelisanan merupakan potensi yang juga bisa diterapkan dalam penulisan puisi. Strategi serupa memang telah lama dilakukan oleh A. Mustofa Bisri, kiai terkenal dari Rembang ini banyak menulis puisi-puisi lugas yang cerdas, kadang panas namun mengundang tawa. Belakangan Hasyim Wahid yang adiknya Gus Dur pun melakukan hal yang sama, menulis puisi-puisi kritis dan filosofis dengan gaya santai. Dan kalau kita mau menengok jauh ke belakang, para penyair sufi dari Persia banyak menggunakan bahasa yang berkarakter lisan seperti nampak pada puisi-puisi Nizami, Sa’di atau Sana’i. Begitu juga sufi-sufi dari Melayu atau Jawa. Bagi para sufi atau kiai, berpuisi nampaknya bukan sekedar mengungkapkan keindahan, tapi juga untuk menyampaikan pesan. Karena ada yang harus disampaikan pada khalayak, maka bahasanya pun dipilih yang komunikatif. Bahasa yang mudah dimengerti orang banyak.


Kembali ke Ahmad Baequni. Penyair yang sehari-harinya selalu memakai sarung dan kopiah ini memang memilih bahasa komunikatif untuk puisi-puisinya. Menulis puisi jenis ini tidaklah lebih mudah jika dibanding dengan puisi imajis yang ungkapannya cenderung gelap dan kata-katanya bersayap. Namun yang perlu diingat, bahwa kata-kata terang atau telanjang pun bisa saja menjadi gelap atau sulit dipahami, kalau memang penyairnya belum menguasai bahasa. Dengan kata lain dalam menulis puisi jenis apapun, penguasaan bahasa dan intensitas terhadap kata-kata, termasuk masalah kejelian memilih angel di dalamnya, adalah keharusan yang tak bisa ditawar. Dengan intensitas dan sudut pandang yang otentik sebuah puisi akan berbeda dengan pidato atau iklan, sekalipun yang digunakan adalah bahasa yang berkarakter lisan.


Dalam kadar tertentu Ahmad Baequni sudah menunjukkan upayanya dalam memainkan dan mengendalikan kata-kata, meski secara umum hasilnya masih terkesan datar-datar saja. “Peta Harapan”, “Fitrah”, “Karena Cinta”,”Lembayung Tua”, “Tolong Jangan Lupakan Aku”, “Persekutuan Waktu”, dan “Sengaja” dan terutama “Pintu Masuk” adalah puisi-puisi yang menunjukkan upaya itu. Puisi-puisi tersebut kebanyakan berangkat dari gagasan, pernyataan atau bahkan pertanyaan, sehingga lebih banyak melibatkan pikiran ketimbang perasaan. Puisi-puisi tersebut tidak berangkat dari suasana hati:


Aku mencintaimu dalam keadaan sakit

Berharap dekat denganmu bisa terobati

Asmara itu telah membuatku menjadi tangguh

Menghadapi tajamnya cobaan yang melukai hati

Semua luka tersembuhkan oleh cintamu


Krisis multi dimensi yang melanda bangsa kita juga mendapat perhatian sang penyair. Keterpurukan ekonomi, keruntuhan moral yang disebabkan kerakusan yang tak terkendali, korupsi yang semakin parah, kekerasan yang mengatasnamakan agama, kekisruhan politik yang tak habis-habisnya, hukum yang tak pernah bisa ditegakkan, para politisi yang semakin kekanak-kanakan dan masyarakat yang kemudian menjadi anarkis satu sama lain, menimbulkan rasa pesimis yang tak bisa dielakkan. “Aku Dan Singa Tua”, “Mengingat Zaman Edan”, “Sang Tambun Penikmat”, “Not For Sale!”, “Si Buta Dari Belantara Indonesia”, “Untitled II”, “Indonesia Dari Layar Kaca” dan “Bisakah Disembuhkan?” adalah puisi-puisi yang secara langsung berbicara tentang kondisi tanah air yang membuatnya seperti kehilangan harapan dan masa depan:


Ketika sang waktu kembali bertanya

Bagaimana khabar Indonesia?

Aku menjawab: “Indonesiaku sedang sakit”

Ketika sang waktu datang menjenguk

Indonesiaku masih sakit

Dokter bilang penyakitnya konplikasi

Indonesiaku malah pergi berburu

Memburu iblis untuk dipelihara


Ada banyak penyair kita yang menulis puisi sosial dan politik, tentu saja dengan aksentuasi yang berbeda-beda. Ada yang suka menuding seolah-olah kesalahan hanya milik pihak atau kelompok lain, ada yang melakukan refleksi terhadap berbagai kenyataan yang memilukan, ada yang meledek atau mentertawakan keadaan, dan ada juga yang hanya memberi kesaksian. Apa yang dilakukan Ahmad Baequni dengan puisi-puisi sosial dan politiknya ini mungkin lebih dekat pada refleksi. Dalam kebanyakan puisinya ia sering menarik keadaan atau situasi tersebut sebagai bagian dari dirinya. Atau ia menyelinap masuk ke dalam dan menjadi bagian dari persoalan yang dihadapinya, termasuk ketika ia bicara soal Aceh dan Amerika. Sebuah puisinya yang menafsirkan tentang kebhinekaan cukup menarik untuk kita kutip di sini, di mana penyair berhasil menggambarkan sebuah bangsa yang multi etnis dan agama dengan menyimbolkannya pada sesuatu yang tidak kita duga, yakni sebuah harmonika:


Setiap kali menjelang tidur

Kubunyikan harmonika

Meskipun sudah lelap dan semuanya tertidur

Nadanya masih sama

Mungkinkah pada pagi hari aku terbangun

Suaranya menjadi sumbang

Aku ingin Indonesia seperti harmonika

Satu barisan beraneka nada

Indah bagiku ketika terlantun lagu

Meskipun mulutku harus berpindah-pindah

Aku tetap mendengarkan nada

Nada yang membuat tidurku tak terganggu


Sebagai pendatang baru ungkapan-ungkapan Ahmad Baequni tentu saja belum secerdik atau secanggih penyair-penyair lain yang sudah berpengalaman, baik dalam memilih sudut pandang atau angel, mengolah simbol, menetapkan metafor maupun menggali kedalaman serta mengembangkan tema. Begitu juga dalam penguasaan serta keterampilannya dalam berbahasa masih sering nampak terbata-bata. Sebuah puisi yang berjudul “Ceritaku” mungkin sedikit menggambarkan bagaimana penyair yang berambut gondrong dan keriting ini sibuk bergulat dengan gagasan yang ingin diungkapkan serta berjibaku mencari cara bagaimana mengungkapkan gagasan tersebut secara tepat:


Selepas berzina aku berdoa

Dengan telapak tangan yang kotor aku meminta

Dapatkah aku bersembunyi dari mata manusia


Selesai maksiat aku menunduk

Di atas sajadah bau, aku bosan membenturkan jidatku

Bisakah aku memungkiri nikmat dunia


Ahmad Baequni menebar perhatian terhadap banyak soal, dengan konsentrasi yang kadang melebar. Jika saja ia mau lebih khusyuk mengolah tema-tema kecil atau keseharian, tema-tema yang ia kenal atau dialaminya secara empirik, mungkin sesuatu yang khas dan unik akan segera nampak. Dalam sejumlah puisi-puisi pendeknya ia justru berhasil memaknai benda-benda seperti pintu, kursi, asbak atau televisi dengan sudut pandang yang personal. Begitu juga sewaktu melukiskan perilaku keseharian orang-orang di sekitarnya, ia sampai pada analogi-analogi yang segar. Namun ketika ia tergoda mengangkat tema-tema besar seperti ideologi, politik atau realitas sosial, entah kenapa ungkapan-ungkapannya cenderung mengarah pada kemarahan, seperti yang nampak pada kutipan di bawah ini:


Soekarno gila wanita, jadilah beliau sang Arjuna

Soeharto gila harta, satu-satunya penguasa terlama di Indonesia

Habibie dianggap gila, karena melepas Timor Timur dari Indonesia

Abdurrahman Wahid juga dituduh gila dan dikelilingi orang-orang gila

Megawati Soekarno Puteri seperti kerbau betina yang hampir gila,

karena dicambuk kusir gila

Susilo Bambang Yudhoyono pusing mengatasi orang-orang gila,

makanya dengan berat hati beliau mengeluarkan kebijakan agak gila

Sampai saat ini banyak orang gila bersembunyi di mana-mana

hingga menemukan rumus jitu agar terhindar dari razia orang gila


***


Saya menulis catatan ini selain sebagai pengantar apresiasi bagi kumpulan puisi pertamanya, juga merupakan empati saya terhadap upaya yang dilakukan Ahmad Baequni dan kawan-kawan dalam menggalakan kesenian, khususnya sastra, di lingkungan pesantren. Bagi saya gerakan kesenian di pesantren menjadi penting bukan semata untuk memberikan pencerahan bagi para santri namun juga sebagai bentuk perlawanan terhadap berbagai upaya politisasi yang semakin mengabaikan nilai dan etika kepesantrenan. Maka ketika orang-orang partai serta broker-broker politik mengotori pesantren, penyairlah yang harus membersihkannya. Atau paling tidak bisa mengingatkan para kiai agar lebih berhati-hati dan sadar akan posisinya.


(2006)

Prev Next Next