Artikel 10

KITA HANYA BISA MENUNGGU


Acep Zamzam Noor


PEMILU 2009 merupakan perhelatan yang paling menghibur, paling tidak bagi saya pribadi. Kampanye sudah berlangsung jauh sebelum ada jadwal resmi dari KPU. Jalan-jalan dipenuhi baligo berbagai ukuran dengan sparasi warna alias full collors. Bukan hanya di jalan-jalan raya, jalan-jalan di kampung bahkan pematang sawah pun penuh dengan macam-macam baligo. Ketika saya tanya kenapa baligo dipasang padahal jadwal kampanye masih belum dimulai, tetangga saya yang menjadi caleg salah satu partai berkilah bahwa itu untuk sosiaslisasi. Semacam pemanasan pra kampanye, di mana para caleg memperkenalkan dirinya masing-masing kepada masyarakat. Yang punya kumis tebal akan memperkenalkan kumisnya, yang mempunyai senyum manis akan memperkenalkan senyumnya. Begitu juga yang mempunyai tahi lalat atau lesung pipit.


Ketika saya tanya berapa harga baligo per buahnya dan apakah ada pajak untuk pemasangannya di ruang-ruang publik, tetangga saya hanya tersenyum. Dia juga hanya tersenyum ketika saya tanyakan berapa jumlah baligo untuk sosialisasi dan berapa untuk kampanye resmi. Tentu saja saya tidak terus bertanya tentang berapa jumlah dana yang disiapkan dan berapa pasukan yang diturunkan sebagai tim sukses selama proses pencalegan berlangsung. Pemilu kali ini memang unik dan atmosfirnya berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Pertarungannya bukan lagi antar partai, namun antar caleg sekalipun berasal dari partai yang sama. Logo-logo partai hanya sekedar pelengkap, yang terpampang besar-besaran justru wajah para calegnya sendiri.


Dan yang membuat saya terhibur tak lain karena wajah para caleg yang terpampang semuanya menampakkan kegembiraan dan keceriaan. Mereka selalu berpose dengan menyunggingkan senyum. Ada yang senyumnya formal dan sedikit tertahan, ada juga yang senyumnya lepas dan bebas. Beberapa caleg muda bahkan bergaya layaknya peragawan dan peragawati terkenal. Ada yang sambil mengibaskan rambutnya seperti iklan Sunsilk, ada yang sambil memamerkan giginya seperti iklan Pepsodent, ada juga yang sambil memperlihatkan otot-otot tubuhnya seperti iklan Kuku Bima. Semuanya nampak penuh semangat, gembira dan ceria.


Dari pemilu ke pemilu, sebagai penonton saya merasa takjub menyaksikan perilaku para caleg (juga anggota dewan yang sudah terpilih). Namun di antara pemilu-pemilu yang saya amati, pemilu kali ini sungguh merupakan peristiwa yang paling menakjubkan. Peristiwa yang membuat buku kuduk saya berdiri dan tubuh saya berkeringat dingin. Sebuah peristiwa teater dengan naskah tragedi sekaligus komedi yang paling spektakuler. Jika pada pemilu-pemilu sebelumnya gambar yang dipasang pada stiker, poster atau baligo adalah logo partai, pada pemilu sekarang yang terpampang langsung potret calegnya sendiri, lengkap dengan kumis atau jilbabnya masing-masing.


Sungguh sebuah pertunjukan yang memukau. Sebuah fashion show yang dilakukan secara massal. Tulisan-tulisan lucu bahkan lugu bertebaran di mana-mana, juga pernyataan-pernyataan yang memuji diri sendiri sebagai caleg yang layak dipilih. Namanya juga kampanye, tentu saja mereka akan melupakan rasa risih atau malu yang kemungkinan akan muncul di kemudian hari. Potret para tokoh kenamaan pun disandingkan untuk menambah kharisma sang caleg, seolah antar mereka sudah demikian akrab. Bahkan nama leluhur atau orangtua juga di sebut-sebut. Sebuah paradoks, di satu sisi mereka narsis namun di sisi lain nampak kurang percaya diri.


Setiap ke luar rumah saya selalu berdoa agar mereka yang wajahnya terpampang di jalan-jalan semuanya lolos menjadi wakil rakyat. Saya cukup terhibur dengan kegembiraan mereka, dengan keceriaan mereka, dengan senyum mereka, dengan kumis mereka, dengan model rambut atau jilbab mereka. Juga dengan optimisme mereka. Kalau semuanya lolos, berarti kehidupan di lingkungan mereka tidak akan terganggu. Kegembiraan dan keceriaan mereka akan tetap memancar seperti sedia kala. Saya tak berani membayangkan bahwa di antara mereka kelak akan ada yang stres atau depresi, akan ada yang lari keliling kota memakai celana dalam, akan ada yang orasi di tengah pasar sambil membakar baju, akan ada yang dirawat di rumah sakit jiwa, akan ada yang gantung diri di pohon mangga.


Sebagai penyair yang jarang berurusan dengan angka, saya memang tidak tahu persis berapa jumlah partai yang ikut berkompetisi dalam pemilu kali ini dan berapa kursi yang tersedia buat para caleg yang konon mencapai ribuan jumlahnya. Bahkan saya tidak tahu apa saja syarat untuk bisa mendaptar sebagai caleg, yang jika terpilih akan mewakili rakyat duduk di parlemen. Apakah diperlukan bakat tertentu, penguasaan ilmu tertentu, tahapan akademik tertentu, latihan dan keterampilan tertentu, pengalaman dan kemampuan tertentu, laku spiritual tertentu, niat dan tujuan tertentu? Apakah diperlukan semacam rasa keterpanggilan yang heroik atau cukup sekedar keinginan saja?


Sebagai penyair tentu saja saya juga mempunyai keprihatinan terhadap kondisi bangsa yang dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun rasanya semakin tidak menentu. Dan puncak dari semua ketidakmenentuan itu adalah terkuaknya kelucuan demi kelucuan. Bukankah sesuatu yang absurd pada akhirnya akan melahirkan kelucuan? Atau barangkali kelucuan inilah yang justru tengah dipersembahkan negara untuk menghibur rakyat agar senantiasa tersenyum di tengah segala kesusahannya.


Saya tidak akan merinci bagaimana kelucuan-kelucuan yang terjadi sejak persiapan pemilu, masa sosialisasi, berlangsungnya kampanye sampai perhitungan suara. Semua media massa, baik koran maupun televisi, sudah cukup lengkap memberitakan bagaimana peristiwa-peristiwa yang sering tak masuk akal terjadi di berbagai daerah. Sebuah kenyataan yang telah membuat para pelawak dan aktor handal negeri ini seakan mati kutu. Para pelawak dan aktor kalah jauh aktingnya dibanding para caleg yang bermain secara total-football itu. Kelompok-kelompok teater juga telah merasa kehabisan ide karena semua sandiwara, mulai dari tragedi sampai komedi, sudah dimainkan dengan sempurna oleh partai-partai peserta pemilu. Sementara para pengarang hanya manggut-manggut karena peristiwa demi peristiwa yang terjadi sudah jauh melampaui imajinasi mereka.


Kadang saya berkhayal seandainya pemilu dilaksanakan setiap tahun atau kalau perlu dua kali setahun, mungkin para pengusaha sablon dan kerudung akan tersenyum karena ada peluang meraup untung besar. Mungkin lapangan kerja akan bertambah lebar. Mungkin masyarakat yang kebelet menjadi caleg akan lebih tersalurkan hasratnya. Mungkin penonton seperti saya akan mendapat hiburan gratis terus-menerus. Kadang saya juga berkhayal seandainya pelaksanaan pemilu ditangani langsung oleh Depnaker, mungkin akan jauh lebih praktis dan hemat ketimbang diurus KPU yang boros dan kurang profesional. Bukankah mereka yang mendaptar menjadi caleg tak ada bedanya dengan para pelamar kerja?


Sekarang pemilu sudah berlalu, begitu juga pemilihan presiden. Kita hanya bisa menunggu apakah janji-janji yang diucapkan selama kampanye akan menjadi kenyataan atau terlupakan begitu saja, seperti biasanya


(2009)

Prev Next Next